Showing posts with label satir. Show all posts
Showing posts with label satir. Show all posts

Friday, April 8, 2011

Suku Maya Benar,Tahun 2012 Kiamat. Maka...

.....anggota DPR ngotot menggolkan rencana membangun gedungnya yang baru.

.....SBY segera menikahkan putranya Ibas demi memperkuat koalisi dunia-akherat.

.....Nurdin Halid terus mati-matian mempertahankan kursi Ketua Umum PSSI.

.....Malinda Dee (foto) tak tanggung-tanggung menguras dana nasabah Citibank yang ia kelola.

.....Malinda Dee melakukan bedah plastik, karena mungkin silikon tidak tersedia di alam keabadian.

.....Tapi pebisnis dotcom AS lebih kuatir ketika Lembah Silikon justru pindah ke payudara Malinda.


Bambang Haryanto
Wonogiri,9/4/2011

Sunday, January 9, 2011

Huruf "T" Dalam Nama Menkominfo Kita

Oleh : Bambang Haryanto
Email : humorliner (at) yahoo.com

Teka-teki aktual.
Apa kepanjangan dari huruf "T" pada nama Menkominfo kita ?
Mungkin ada yang menjawab : "Taliban."

Ah, mungkin bukan lelucon yang terlalu lucu.

Tetapi kayaknya juga benar bila membaca-baca kabar betapa Tifatul Sembiring nampak terobsesi berat tentang pornografi. Mungkin ketika beliau melihat tembok, buku tulis, sabak, sampai kalender, yang muncul di kepalanya adalah kekuatiran bila alat-alat/media itu akan digunakan untuk menyebarluaskan pornografi.

Setelah getol mengoprak-oprak Internet, kini Blackberry dapat giliran.

Tetapi yang pasti ia rupanya “buta” akan fakta bahwa situs-situs porno sekarang ini bukan lagi sebagai daya tarik utama di Internet. Erik Qualman punya cerita menarik, dengan Anda klik di sini.Dirinya hendak mengajarkan kita untuk melakukan hal yang sia-sia ?

Apa pendapat Anda ?


Bambang Haryanto
Penulis buku humor politik Komedikus Erektus : Dagelan Republik Kacau Balau (Etera Imania, 2010)

Wonogiri, 10/1/2011

Thursday, September 17, 2009

KPK, Polisi dan Goyang Buaya

Oleh : Bambang Haryanto
Email: humorliner (at) yahoo.com



Pembegal. Encyclopedia Britanica 2004 menyebut buaya air tawar yang hidup di Asia dengan nama mugger. Artinya, ya buaya juga. Tetapi dalam bahasa pasaran, slang, bisa pula diartikan sebagai pembegal atau perampok.

Kata buaya kini lagi naik daun. Utamanya ketika mencuat kontroversi perseteruan antara Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) versus Polri. Seorang pejabat tinggi Polri menyebut KPK sebagai “cicak” dan institusinya sendiri sebagai “buaya” sebagai perbandingan bila antarkeduanya terjadi pertarungan.

Perbandingan unik itu semestinya mampu menggelitik nalar jahil komedian. Sayang, lelucon politik masih merupakan ranah yang mungkin karena kuatnya cengkaman rasa takut dari sisa-sisa masa represif Orde Baru, tidak terampil mengolahnya atau karena alergi, membuat lahan subur olah kreativitas komedi itu justru dijauhi para pelaku dunia komedi kita.

Kembali ke cicak versus buaya. Bagaimana kalau keduanya tidak dipertarungkan, tetapi jutru didamaikan, dan dipersilangkan ? Konsekuensinya : 1. Puluhan ribu asrama Polri dan rumah anggota Polri terancam roboh ketika dinding atau plafon rumahnya dirambati oleh banyak buaya. 2. Muncul lagu anak-anak baru dengan lirik, “Buaya-buaya di dinding, diam-diam merayap/Ngumpet pejabat korup, bisakah kau tangkap ?”, 3. Lagu lamanya Elton John era 70-an, Crocodile Rock, goyang buaya, menjadi hit kembali.

Kita salut terhadap aksi “goyang buaya” yang mencuatkan prestasi dengan tewasnya gembong teroris Noordin M Top di Mojosongo, Solo.

Tetapi untuk goyang yang dikuatirkan mampu mengakibatkan teramputasinya krida aksi pemberantasan korupsi di Indonesia, kita menjadi sangat prihatin.

Bahasa pasaran untuk buaya segera berparade di depan mata. (BH).

Monday, June 1, 2009

Tragikomedi Model Manohara

Oleh : Bambang Haryanto
Email : humorliner (at) yahoo.com


Buku khayalan. Sudahkah Anda membaca “buku baru” karya PM Italia Silvio Berlusconi ? Buku berjudul Happy Marriage, Happy Family itu aslinya dalam bahasa Italia adalah Matrimonio Felicita, Famiglia Felicita.

Sutradara film dan komedian Woody Allen, konglomerat Donald Trump sampai Madonna, konon pernah menulis buku berjudul sama.

Kuis : siapakah calon presiden/calon wakil presiden kita yang pantas menulis buku berjudul sama ? Siapkah pula Anda membacanya bila Dewi Persik, Ahmad Dhani, Maia, Glenn Fredly, Juni Shara, Halimah sampai Manohara, menulis buku yang berjudul sama ?

Tragis. Mengenaskan benar nasib model cantik asal Indonesia, Manohara (foto : bawah). Istri pangeran suatu kerajaan di Malaysia itu konon hidupnya penuh siksaan. Syukurlah, kini ia bisa membebaskan diri. Ia bisa kembali pulang ke Indonesia. Di layar televisi nampak ia larut dalam keharuan ketika bertemu ibunya.

Manohara sepertinya juga tidak menyesalkan kehilangan statusnya sebagai istri pangeran. Bahkan ia nampak bangga punya karier dan pekerjaan baru kini : berseragam loreng untuk menjadi anggota satgas pasangan calon presiden/wakil presiden di Pilpres 2009. Mengenaskan nasibmu, Manohara.

Mana nasionalismemu ? Anda mengikuti wawancara televisi dengan Manohara ? Simak baik-baik : berapa persen ia berbicara menggunakan bahasa Inggris ? Berapa persen ia kental menggunakan aksen Melayu ? Dan berapa persen ia menggunakan bahasa Indonesia ?

Well, saya bingung. Apakah akibat siksaan dari suaminya itu yang membuat saya merasa Manohara kini tak cocok lagi sebagai warga Indonesia ?

Mencari kodok. Bagaimana kelanjutan hidup dari Manohara ? Dalam wawancara televisi, ia berkata ingin melanjutkan pendidikan. Saya bingung : apakah ia akan mengulangi lagi pendidikan SD, agar lancar kembali berbahasa Indonesia ?

Atau berkuliah khusus karate atau silat, guna membela diri dari ancaman aksi kekerasan dalam rumah tangga ? Atau memilih belajar biologi, sehingga dirinya dapat bertemu kodok yang dapat ia cium untuk merubahnya menjadi pangeran yang baik hati ? (BH).

Sumber foto Manohara : http://celebrity.detikyogyakarta.net/manohara-pinot-kisah-model-indonesia/

Tuesday, March 24, 2009

Facebook, Lumpur Lapindo dan Politikus Kita 2009

Facebook, Lumpur Lapindo dan Politikus Kita 2009

Oleh : Bambang Haryanto
Email : humor liner (at) yahoo.com


Dibawah karpet. Pernah nonton film An Inconvenient Truth (2006)-nya Al Gore ? Karena ancaman pemanasan global yang membuat antara lain permukaan air laut naik, maka ia memprediksikan akan ada ratusan jutaan pengungsi di negeri sendiri karena bencana lingkungan. "It is now clear that we face a deepening global climate crisis that requires us to act boldly, quickly, and wisely," kata Al Gore.

Gambaran Al Gore mengenai pengungsi akibat bencana lingkungan itu sebenarnya sudah terjadi. Contohnya jelas di depan mata kita. Di Porong, Sidoarjo, akibat luapan lumpur panas Lapindo. Radio BBC (23/3) mewartakan betapa para korban lumpur panas itu di mata penguasa kita sekarang ini seolah hanya sebagai kotoran yang terus disapu ke bawah karpet.

Tidak seperti anjuran Gore agar masalah segenting itu diselesaikan secara berani, cepat dan bijaksana, malah semua orang kini ramai-ramai cuci tangan. Nasib mereka tak dihiraukan. Termasuk, tidak adanya para caleg lokal atau nasional yang berani berkampanye di sana saat ini.

Gitu saja kok repot ? Bagaimana para capres dan politisi kita dalam menyikapi hal yang sama ? Ini kira-kira bunyi “status” dalam facebook mereka :

Megawati : ke Jawa Timur fokus saya hanya ke Blitar.Biasalah, untuk nyekar. Merdeka !
SBY : me too, tapi ke Pacitan, juga untuk nyekar.
Jusuf Kalla : di Porong sudah banyak bloggernya belum ? Juga yang memiliki Blackberry ? Kalau sudah banyak, saya pasti akan ke sana.
Wiranto : saya sih hanya ke Malang, seperti saat peristiwa 12-13 Mei 1998.
Prabowo : saya kuatir ada manipulasi dan penggelembungan DPT di Porong itu, seperti terjadi di Madura saat Pilgub lalu.
Aburizal Bakrie : kalau Prabowo benar, makin berat beban perusahaan saya untuk bayar ganti rugi bagi mereka. Maaf, belum bisa ke Porong. Saya lagi sibuk berusaha menghapus angka “666” dalam foto saya di Tempo.
Gus Dur : kalau dugaan Mas Bowo benar, ya ga usah kuatirlah. Warga Porong kan akan ikut saya ? Ramai-ramai jadi golput. Gitu saja kok repot ?


Wonogiri, 25/3/2009

ke

Sumber foto : http://daus1975.files.wordpress.com/2008/11/korban-lumpur-lapindo.jpg